tukangtranslate

Artikel tentang penerjemah

In penerjemah on August 7, 2008 at 7:58 pm
Tentang Penerjemah
(Monday, 23 January 2006) – Contributed by Farah Riziani –
Last Updated (Monday, 23 January 2006)
BAHASA Tentang Penerjemah oleh BENNY H HOED yang menanggapi Alfons Taryadi dalam rubrik ini pada Jumat 16 Desember 2005 mengeluh tentang terjemahan yang ngawur. Ia memberikan contoh terjemahan yang dapat dikategorikan sebagai salah, tidak mengalihkan pesan secara betul. Apa yang sedang terjadi di bidang penerjemahan di negeri kita?

Di kalangan kita masih terjadi ketidakpahaman akan kemampuan dan peran penerjemah, yakni mengalihkan pesan teks suatu bahasa ke bahasa yang lain dan berperan sebagai jembatan menghubungkan dua pihak. Posisinya sangat strategis. Kesalahan penerjemahan memberikan dampak yang buruk pada pemahaman pembaca.

Fasih berbahasa asing tidak dengan sendirinya mampu menerjemahkan. Penguasaan bahasa sasaran sangat penting. Kemampuan menerjemahkan bertumpu pada pengalaman, bakat, dan pengetahuan umum: gabungan pengetahuan atau inteligensi (kognitif), rasa bahasa (emotif), dan ketrampilan menggunakan bahasa (retoris). Seorang penerjemah tidak dapat menerjemahkan naskah untuk segala bidang. Penerjemah harus menguasai pengetahuan umum, seperti tentang kehidupan sosial, politik, ekonomi, budaya, teknologi, dan ilmu pengetahuan.

Penerjemah yang berspesialisasi, misalnya hukum, teknik, atau kedokteran, harus menguasai substansi yang diterjemahkannya. Sering terjadi seorang penerjemah “dipaksa” menerjemahkan teks dengan substansi apa saja. Penerjemah adalah profesi. Mempekerjakan penerjemah harus berdasarkan kriteria profesional dan tidak sekadar karena kenal atau karena kata orang saja. Bila kita belum mengenal kemampuannya, ia harus diminta menerjemahkan satu halaman untuk kita
nilai kualitasnya.

Editor penerbit masih banyak yang tidak memerhatikan kualitas terjemahan, tetapi semata-mata bahasa Indonesianya agar layak terbit dan laku jual. Dalam penerbitan terjemahan diperlukan pemeriksa kualitas terjemahan (disebut reviser), yang menguasai bahasa sumber dan bahasa sasaran, untuk mengurangi risiko kesalahan. Penerjemahan film juga masih memprihatinkan karena penerjemahnya diambil tanpa menggunakan kriteria profesional. Intinya, kualitas
terjemahan harus diutamakan.

Penerjemah adalah profesi praktis dan nonakademis yang bertumpu pada kemampuan berpikir, rasa bahasa, dan kemampuan retoris.Peneliti dan kritikus terjemahan adalah profesi yang sifatnya akademis atau semiakademis. Mereka pengkaji dan bukan praktisi penerjemahan.
Pendidikan sarjana, magister, atau pun doktor di bidang penerjemahan memberikan kemampuan akademis dan bukan praktis di bidang penerjemahan, kecuali jika kurikulumnya memang dirancang untuk menghasilkan penerjemah.

Kualitas penerjemah berdampak pada kualitas terjemahan. Penerjemah berkualitas buruk akan menghasilkan terjemahan yang buruk. Pertanyaannya bagaimana menanggulangi masalah ini?

Pertama,Salah satu butir kode etik Himpunan Penerjemah Indonesia menyebutkan penerjemah tidak dibenarkan menerima pekerjaan penerjemahan yang tidak sesuai dengan kemampuannya. Ini untuk menjaga kualitas.

Kedua,Penerjemah harus selalu meningkatkan dan memperluas serta menyegarkan pengetahuannya.

Ketiga, sebagai tempat mengembangkan program pelatihan di samping program pendidikan formal di jenjang pascasarjana (spesialis atau magister).

Keempat, HPI sedang membina para penerjemah dengan pendidikan nonformal untuk meningkatkan kualitas.

Kelima, peneliti dan kritisi terjemahan harus berperan sebagai pendorong peningkatan kualitas.

Keenam, pengembangan karir penerjemah harus mendapat dorongan dari masyarakat pengguna. Penerjemah dalam birokrasi harus diberi jabatan fungsional agar karirnya terjamin (upaya ini sedang ditangani oleh Sekretariat Negara dan Kementerian PAN).

Ketujuh, perlu ada standardisasi kualitas melalui ujian kualifikasi (sejak tahun 1968 sudah dilakukan oleh Universitas Indonesia). Itulah sketsa profesi penerjemah di Indonesia. Semoga penerjemahan yang ngawur seperti dikeluhkan Alfons Taryadi bisa berkurang jumlahnya. Namun, kelihatannya kita masih harus bersabar.

* Penulis Ketua Umum Himpunan Penerjemah Indonesia, Guru Besar Emeritus Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI, Depok.

  1. Saya sangat setuju dengan butir-butir yang disampaikan dalam artikel tsb di atas.
    Itu sebabnya saya sangat ingin meningkatkan kemampuan dan pengetahuan serta kualitas terjemahan saya. Saya ingin bergabung… Karena saya tinggal di Bogor bisakah ada kursus online???
    Salam sukses.

  2. Dear miss Nupi,
    setahu saya si di bogor ada pak Rahmat dari lembaga HAPSA ET STUDIA yang menyelenggarakan kursus penerjemahan gitu..keterangan lengkapnya ada di http://www.hapsa-studia.com/
    makasi ya udah mo mampir di blog ini dan…
    sukses juga ya buat anda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: