tukangtranslate

Meraup dolar …

In Meraup dolar on August 15, 2008 at 11:11 am

Meraup dolar melalui penerjemahan berbasis internet: pengalaman pribadi

Oleh: Sofia Mansoor, penerjemah profesional, ilovepeace@yahoo.com

Disampaikan pada acara Seminar Penerjemah dan Juru Bahasa: Aspek Kualitas dan Kewirausahaan, Jakarta 3 Juni 2006

Kehadiran internet membuat orang semakin mudah dan cepat berkomunikasi, baik secara tertulis maupun lisan, baik untuk kepentingan bisnis maupun pribadi. Komunikasi lewat email telah semakin menyisihkan komunikasi lewat surat. Kantor pos pun mau tak mau harus menyusun strategi baru agar bisa tetap survive.

Konsep SOHO (Small Office, Home Office) juga telah semakin populer, terutama di negara maju atau di kota besar di Indonesia. Karyawan tidak lagi perlu datang setiap hari ke kantor, melainkan cukup bekerja di rumah. Tatap muka dengan atasan atau rekan sejawat dilakukan secara berkala, misalnya seminggu sekali. Di dunia penerbitan, naskah tidak lagi perlu dikirimkan lewat pos yang bisa makan waktu berhari-hari, namun sudah dikirimkan dan diterima sebagai lampiran email, yang bisa melintas dalam hitungan detik atau menit atau jam saja. Jarak seakan sudah sangat kecil artinya.

Komunikasi lisan pun mengalami kemajuan pesat karena dewasa ini tersedia banyak sekali program komunikasi real time seperti Yahoo Messenger dan Skype. Pihak yang bercakap-cakap bisa melibatkan hanya dua pihak, namun bisa juga beramai-ramai seperti dalam konferensi. Suara pun bisa dilengkapi dengan tampilan visual melalui kamera yang dipasang sebagai bagian dari perangkat komputer.

Semakin banyak pula bidang pekerjaan baru yang bermunculan seiring dengan perkembangan internet ini. Dulu, untuk mendapatkan uang saku, anak perempuan di negeri Paman Sam bekerja sambilan menjadi penjaga anak kecil, sementara anak lelaki bekerja memotong rumput. Sekarang, menurut buku Growing Up Digital (1998), kedua macam pekerjaan klasik tersebut sudah tersaingi oleh pekerjaan modern seperti membuatkan situs web untuk perusahaan ataupun situs web pribadi untuk orang tua mereka!

Salah satu bidang usaha baru ini adalah bidang usaha penerjemahan dengan memanfaatkan internet. Komunikasi di sini dilakukan tanpa bertatap muka dengan pihak pemberi pekerjaan. Demikian pula dengan pengiriman kontrak kerja, bahan kerja, dan hasil kerja, yang semuanya dilakukan melalui internet. Penerjemah bisa melakukan pekerjaannya di mana saja asal ada koneksi ke internet. Akibatnya, tanpa memiliki izin kerja pun, penerjemah bisa saja dengan bebas melakukan pekerjaan sewaktu dia sedang berada di negara lain yang sebetulnya mengharuskannya memiliki izin kerja seperti green card di Amerika Serikat!

Dalam perbincangan kali ini, saya ingin berbagi pengalaman dalam bidang usaha penerjemahan, yang telah saya tekuni selama lebih dari 25 tahun, dan yang selama lebih dari sepuluh tahun terakhir ini saya lakukan dengan memanfaatkan internet.

Syarat penerjemah yang baik

Sebagaimana bidang usaha lain, pekerjaan penerjemahan pun memerlukan sejumlah syarat agar bisa sukses. Karena bidang usaha ini termasuk bidang jasa, si pemberi jasalah yang merupakan modal utamanya. Seorang penerjemah (yang menerjemahkan ke bahasa Indonesia) harus menguasai bahasa Indonesia dengan sangat baik, baik ragam tulis maupun lisan. Hal ini tentu masuk akal karena tugasnya adalah mengalihbahasakan dokumen atau pesan ke dalam bahasa Indonesia. Syarat berikutnya adalah menguasai bahasa sumber dengan sangat baik, baik ragam tulis maupun lisan. Syarat ini juga masuk akal karena tanpa menguasai bahasa sumber dengan baik, mustahil seseorang bisa melakukan pekerjaan penerjemahan dengan hasil yang memuaskan.

Selanjutnya, tentu saja penerjemah harus mengenal dengan baik bahan yang akan diterjemahkan. Hal ini terutama penting untuk bidang yang sangat khusus – kedokteran, hukum, teknik, dan sebagainya. Saya mengenal sejumlah penerjemah berlatar belakang pendidikan bahasa yang menambah ilmunya terlebih dahulu sebelum berkecimpung dalam bidang terjemahan yang ditekuninya, misalnya para penerjemah penuh-waktu yang bekerja di perusahaan pengeboran minyak atau pertambangan.

Dalam mengerjakan tugasnya, tak bisa disangkal bahwa penerjemah memerlukan sarana bantuan, dan tentu saja ia harus mengetahui cara mencari dan menggunakan sumber bantuan tersebut, misalnya cara menggunakan kamus (baik kamus tradisional maupun kamus online) dan sumber informasi di internet. Sumber bantuan lain yang juga besar manfaatnya adalah milis para penerjemah, antara lain Bahtera, yang saya dirikan bersama dua rekan saya sesama penerjemah pada Juli 1997. Anggota Bahtera saat ini sudah hampir mencapai 1000 orang, Padahal dua tahun setelah pendiriannya, Bahtera baru diawaki oleh puluhan orang saja. Sungguh peningkatan yang mencengangkan.

Yang juga diperlukan adalah keterampilan menggunakan beberapa program komputer “wajib” semacam Word, PowerPoint, Excel. Penggunaan program semacam Trados, DejaVu, Wordfast dll. membantu penerjemah membangun translation memory di komputernya untuk memudahkan penerjemahan dokumen yang selalu diperbarui, misalnya manual.

Yang terakhir, namun yang tidak kurang pentingnya, khususnya bagi penerjemah yang mendapatkan pekerjaannya lewat internet, adalah memiliki akses ke internet dengan kecepatan koneksi yang memadai. Hal ini diperlukan khususnya untuk men-download bahan kerja berukuran besar seperti film atau dokumen dalam format PowerPoint dan PDF.

Jenis penerjemahan

Secara umum ada dua jenis penerjemahan, yakni penerjemahan tulis dan penerjemahan lisan. Penerjemahan tulis mencakup penerjemahan buku dan bahan nonbuku seperti brosur, selipat (leaflet), iklan, dokumen saham, subtitle film, bahan pelatihan, artikel majalah, profil perusahaan, laporan tahunan, dokumen hukum, dan masih banyak lagi yang lainnya. Sementara itu, penerjemahan lisan biasa dilakukan di gedung pengadilan, melalui sarana komunikasi lain (telepon, telekonferensi di internet, dll.), dan di ajang pertemuan formal dan nonformal seperti seminar dan rapat yang menggunakan multibahasa.

Pemberi pekerjaan terjemahan

Sebetulnya banyak sekali pihak yang memerlukan tenaga penerjemah. Untuk menerbitkan buku terjemahan tentu saja pemberi kerja adalah para penerbit di Indonesia, meskipun kadang ada juga penerbit di mancanegara. Dewasa ini semakin banyak penerbit Indonesia yang merambah bidang usaha penerjemahan ini, bukan hanya dari bahasa Inggris, tetapi juga dari bahasa lain seperti Arab (buku Islam) dan Jepang (komik).

Sementara itu, pemberi kerja yang paling umum untuk bahan nonbuku adalah biro penerjemahan, terutama di mancanegara. Semakin lama, semakin banyak biro penerjemahan yang memerlukan penerjemahan ke dan dari bahasa Indonesia. Di komputer saya saja tercatat lebih dari 50 nama biro penerjemah yang 95% berasal dari negeri Paman Sam.

Selain penerbit dan biro penerjemahan, perusahaan pun sering memerlukan tenaga penerjemah, khususnya perusahaan multinasional yang mempekerjakan orang asing. Selain itu, sejumlah kedutaan juga mempekerjakan tenaga penerjemah tetap maupun paruh-waktu. Perusahaan yang produknya dipasarkan di berbagai penjuru dunia sering membutuhkan penerjemah untuk menangani iklan produknya, dan biasanya ini ditangani oleh perusahaan periklanan.

Penerjemahan lisan yang dilakukan oleh para juru bahasa biasanya diperlukan oleh LSM atau organisasi nonpemerintah, pengadilan, dan panitia seminar internasional. Secara umum boleh dikatakan bahwa penerjemahan lisan memerlukan keterampilan yang melebihi penerjemahan tulis karena si penerjemah harus secara langsung menerjemahkan ucapan orang. Waktu berpikir sangat pendek sehingga kemampuan mendengar dan berpikir dalam dwibahasa benar-benar harus sangat tinggi.

Jenis penerjemahan yang mirip dengan penerjemahan lisan, yakni memerlukan kemampuan mendengar yang sangat baik, adalah penerjemahan film. Ada kalanya penerjemah tidak dibekali teks tertulis sehingga dia harus mengandalkan pendengarannya untuk menangkap pesan yang disampaikan dalam film. Dulu, saya sering mendeteksi kesalahan terjemahan di TV yang terjadi karena penerjemah salah mendengar kata Inggrisnya, misalnya breath dikelirukan dengan breeze. Pekerjaan jenis ini tentu disediakan oleh perusahaan pembuat subtitle film dan stasiun televisi.

Ajang bisnis penerjemahan di internet

Di internet terdapat sejumlah situs yang menjadi ajang bisnis bagi para penerjemah dari berbagai bahasa. Dua contoh yang dapat saya kemukakan di sini adalah Proz.com dan TranslationsCafe.com. Di kedua situs tersebut para penerjemah bisa mengiklankan diri, dan sebaliknya para pihak yang membutuhkan jasa penerjemah bisa mengiklankan pekerjaan penerjemahan. Anggota Proz.com dapat membuat akun sendiri untuk mengiklankan diri, dan kemudian bersaing dengan penerjemah lain di kala ada iklan pekerjaan penerjemahan. Biasanya mereka mengajukan penawaran ibarat sedang mengikuti lelang. Pencari jasa penerjemah kemudian menentukan siapa yang akan digunakan jasanya berdasarkan beberapa parapemeter yang mereka tentukan sendiri, misalnya pengalaman kerja dan tarif yang ditawarkan. Saya sendiri jarang sekali memanfaatkan kedua situs ini karena persaingannya sangat ketat dan menurut pengamatan saya cukup banyak penerjemah yang bersedia dibayar dengan tarif amat rendah.

Honor penerjemah

Terdapat bermacam cara untuk menghitung honor penerjemah. Penerbit buku di Indonesia pada umumnya menghitung honor penerjemah berdasarkan halaman terjemahan, yang besarnya sangat beragam, bergantung pada penerbitnya dan bahkan pada “kelas” penerjemahnya. Sejauh yang saya ketahui, honor penerjemah di penerbit Indonesia berkisar antara Rp10.000 dan Rp25.000 per halaman. Jika penerbit menggunakan tenaga penyunting lepas, biasanya honor penerjemah dihitung berdasarkan jumlah halaman terjemahan yang sudah disunting. Selain berdasarkan jumlah halaman, ada juga penerbit yang menghitung honor penerjemah berdasarkan jumlah karakter dalam hasil terjemahan.

Berbicara mengenai honor penerjemahan buku, saya pernah ditawari menjadi penyunting lepas di sebuah penerbit Indonesia dan diberi kebebasan untuk mencari penerjemah sendiri. Sayang, tawaran ini sulit diwujudkan dengan hasil memuaskan karena kebanyakan penerjemah yang baik sudah memiliki kesibukan sendiri, dan kalau pun memiliki waktu untuk menerjemahkan, mereka memilih untuk menerjemahkan bahan dari biro penerjemahan mancanegara. Mengapa? Hal ini akan saya ceritakan saat saya menyampaikan makalah pada waktunya nanti. Pokoknya, dalam cerita saya nanti akan ada beberapa kata kunci seperti rumah, sekolah, dan M!

Berbeda dengan honor penerjemahan buku, honor penerjemahan bahan nonbuku sering dihitung berdasarkan jumlah kata atau karakter dalam dokumen asal, meskipun perhitungan berdasarkan jumlah halaman juga lazim, dan biasanya lebih besar daripada honor penerjemahan buku. Setahu saya, honor untuk bahan yang sangat teknis seperti bidang kedokteran dan hukum berkisar antara Rp.50.000 dan Rp100.000 per halaman. Baru-baru ini saya pernah menerjemahkan buku untuk penerbit di Indonesia yang menghitung honor saya berdasarkan jumlah kata di buku aslinya. Rupanya buku aslinya dipindai dengan menggunakan OCR (Optical Character Recognition) sehingga penerbit bisa menghitung jumlah kata atau karakter naskah sumber tersebut.

Selain itu, ada pula pemberi kerja yang menghitung honor penerjemah berdasarkan derajat kesulitan, misalnya dari bahasa yang jarang dijumpai di Indonesia, atau sulitnya bahan yang diterjemahkan, misalnya bahan yang sangat teknis.

Tidak jarang pula honor penerjemah yang dihitung berdasarkan waktu (jumlah jam) yang digunakan untuk menerjemahkan, biasanya untuk teks yang banyak gambarnya (file dalam format PowerPoint). Namun, penghitungan berdasarkan jam ini lebih sering diterapkan untuk pekerjaan penyuntingan, meskipun banyak juga pemberi kerja yang menghitung honor penyunting berdasarkan jumlah kata atau karakter.

Yang terakhir adalah honor penerjemah subtitle film, yang biasanya dihitung berdasarkan jumlah subtitle dalam satu film. Jadi, subtitle yang hanya terdiri atas satu kata, misalnya Hello, atau dua puluh kata, honornya sama. Selain berdasarkan jumlah subtitle, honor penerjemah film juga lazim dihitung berdasarkan durasi film (jumlah menit). Jadi, baik yang diterjemahkan itu film yang banyak mengandung dialog ataupun film laga yang sedikit dialognya, honor terjemahannya sama saja jika durasinya sama.

Suka dan duka penerjemah

Seperti halnya pekerjaan lain, pekerjaan sebagai penerjemah memiliki suka dukanya sendiri. Sukanya cukup banyak, antara lain yang paling saya sukai adalah bahwa penerjemah tidak terikat oleh waktu dan ruang, artinya kita leluasa mengatur waktu kerja sendiri sesuai dengan waktu yang kita sediakan, dan pekerjaan dapat dikerjakan di mana saja, asalkan sarananya tersedia. Contohnya, Prof Kosasih Padmawinata (alm), sering menerjemahkan buku di dalam mobil sambil menunggu istri berbelanja di pasar. Sarananya cukup kertas dan pensil. Sampai akhir hayatnya, beliau masih mengandalkan tulisan tangan untuk menerjemahkan!

Keuntungan lain adalah kita tidak memiliki atasan langsung yang bisa seenaknya “memerintah” kita. Komitmen kita hanyalah kepada pemberi kerja, dan bersamanya kita mengatur jadwal kerja dan imbalan yang diinginkan. Besarnya income pun bisa kita atur sendiri. Jika kita bisa bekerja cepat (dan baik tentunya!) dan bersedia bekerja dengan jam kerja panjang, income yang diperoleh pun tentu bisa cukup besar.

Penerjemahan bahan yang beragam pun tentu semakin memperluas cakrawala pengetahuan. Melalui penerjemahan, saya berkenalan dengan dunia saham, kecanggihan mobil BMW terbaru, pedoman berperilaku di perusahaan multinasional, betapa berbahayanya bekerja di anjungan minyak lepas pantai, komplikasi yang mendebarkan yang menjadi makanan sehari-hari dokter bedah, kekayaan minyak di Norwegia dan Timur Tengah, terorisme dan cara menanggulangi korban teror dsb.

Namun, di samping suka, tentu saja ada kalanya bidang pekerjaan ini membuat bete. Semakin banyaknya orang yang bisa mengakses internet dan menaruh minat untuk mencari pekerjaan sebagai penerjemah telah semakin memperketat persaingan di bidang usaha ini. Akibatnya, perang tarif tak bisa dihindari. Padahal, persaingan tidak sehat ini sebetulnya hanya akan merugikan para penerjemah karena tarif penerjemah Indonesia mulai terbukti cenderung semakin murah. Belum lama ini sebuah biro penerjemahan raksasa di Eropa memutuskan untuk menurunkan tarif honor para penerjemah Indonesia sampai sekitar 50%! Beberapa penerjemah yang merasa “terhina” oleh keputusan sepihak tersebut memutuskan untuk mengundurkan diri dari biro tersebut, termasuk saya.

Kendala lainnya adalah perbedaan waktu antara kita sebagai penerjemah di Indonesia dan pemberi kerja di mancanegara, yang membuat komunikasi sering tertunda. Misalnya, di saat kantor di AS mulai menggeliat, kita di sini sudah akan berangkat tidur, dan sebaliknya.

Penutup

Akhirnya, karena seluruh proses pekerjaan, termasuk pembayaran honor, berlangsung tanpa bertatap muka, pemberi kerja dan penerima kerja harus saling percaya dan menghormati. Bagaimana kita tahu bahwa pemberi kerja menepati janjinya untuk membayar honor kita? Sebaliknya, bagaimana pemberi kerja yakin bahwa kita menghasilkan terjemahan yang baik, padahal dia tidak mengerti bahasa kita? Hanya profesionalisme kita masing-masinglah yang bisa dijadikan pegangan. Sebagaimana dalam profesi lain, hanya mereka yang menjaga integritas dan kualitas jasanya sajalah yang akhirnya akan mampu survive dalam bidang pekerjaan yang persaingannya semakin ketat ini.

Bandung, Juni 2006

Sofia Mansoor

ilovepeace@yahoo.com

  1. Salam kenal. Saya tak sengaja menemukan situs ini ketika bertanya pada Mbah Google tentang padanan kata untuk “webhost”. Semoga sukses selalu dengan bisnis kalian. Oh ya, saya pun menggemari BI sejak SMP karena jengkel dengan generasi muda yang lebih paham bahasa daerah dan bahasa gaul daripada BI. Kini bahasa yang saya dalami adalah Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia…haha…sama-sama disingkat BI.

  2. salamm suksesss jugaa buat annndaaaa…

  3. Salam kenal, semoga sukses dalam menjalankan bisnis ya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: